← Daftar isi

00 / 14

Awal

Bagaimana cerita ini dimulai dan mengapa ini bukan panduan berlari.

3 mnt · 538 kata

Suatu kali, setelah mengikuti lomba lari, aku mengunggah foto dengan medali finisher di Facebook. Aku menulis bahwa kalau kita membaca petunjuk persiapan maraton lalu menjalankannya dengan benar, hasilnya memang sesuai harapan. Di kolom komentar, temanku Denis Klementyev bertanya: petunjuk yang mana? Kupikir, aku akan menulis sedikit tentang menaikkan lalu menurunkan beban latihan menjelang lomba. Lalu kupikir lagi, itu kurang lengkap. Perlu juga membahas jarak tempuh mingguan. Dan sedikit tentang zona denyut jantung, karena itu membantuku. Sepatah dua patah kata tentang kadens... Aku sudah membaca berbagai buku dan banyak artikel, mencoba menerapkannya sendiri, dan merasakan hasil dari bermacam trik itu. Jadi, kupikir menjelang akhir tahun aku akan menulisnya lebih lengkap. Siapa tahu berguna. Ternyata, hasilnya jauh lebih panjang daripada sebuah unggahan.

Ini catatan tentang apa yang kualami sendiri: yang berhasil, yang gagal, dan apa yang kupahami darinya. Bukan kumpulan nasihat. Begitulah pengalamanku; kalau kamu mencoba, hasilnya belum tentu sama. Aku cuma berharap kamu menikmati ceritanya dan ikut menemukan nikmatnya berlari.

Buku ini kuberi judul “Setahun Gilari”. Sebab, pada suatu titik, lari tak lagi muat di kotak bertuliskan “latihan”. Ia merembes ke kebiasaan, rencana, perjalanan, dan obrolanku. Buku ini bercerita tentang apa yang terjadi setelah itu.

Bocoran: apa yang terjadi padaku

Pernah suatu masa berat badanku 89 kg dengan tinggi 180 cm. Berlari 1 km saja tanpa berhenti aku tidak sanggup. Bau badan alamiku juga tidak terlalu sedap.

Lalu aku mulai berlari, dan keadaan membaik. Beratku turun menjadi 82 kg, aku sanggup menyelesaikan maraton (42,2 km) dalam waktu sedikit di bawah 4 jam, dan secara umum aku cukup puas dengan diriku.

Ketika berusia 45 tahun, aku semakin menggemari lari. Selama satu tahun itu, beratku turun menjadi 72 kg, persentase lemak tubuhku tidak lebih dari 8%, dan aku menuntaskan maraton dalam 3 jam 12 menit.

Begini ceritanya.

Awal mula berlari

Beberapa tahun sebelumnya, aku dan temanku Alexey Berlov, yang biasa kupanggil Lyosha, bepergian keliling Amerika Serikat. Kami menyewa mobil dan melaju dari Samudra Atlantik ke Samudra Pasifik, melewati Washington, Miami, New Orleans, Colorado, Arizona, Las Vegas, sampai Los Angeles. Banyak laki-laki memimpikan perjalanan seperti itu, dan kami mewujudkannya. Petualangan yang luar biasa. Malam hari kami minum bir di bar setempat, pagi harinya Lyosha pergi berlari, lalu sepanjang hari kami kembali menyusuri rute perjalanan.

Aku bertanya, “Kenapa kamu lari?” Jawabnya, ia bisa melihat kota dari sisi yang sama sekali berbeda. Saat berlari, kita melihat lebih banyak daripada wisatawan yang berjalan pelan, juga lebih banyak daripada pengemudi yang melintasi jalan-jalan utama. Kita melihat pengantar susu membagikan susu, warga setempat berangkat kerja. Kita melihat kawasan pejalan kaki, pantai, dan taman, bukan cuma tempat parkir dan objek wisata utama. Banyak sekali yang terlihat!

Menurutku ia benar, jadi aku mencoba lari 5 km pertamaku. Saat itu kami berada di dekat Danau Powell. Cuaca panas, di sekeliling kami gurun berdebu, dan lariku payah sekali. Seluruh tubuh sakit, aku berlari lambatnya minta ampun sambil terengah-engah parah. Jadi, kegiatan itu langsung kutinggalkan.

Namun, sepulangnya ke rumah, aku membeli sepatu Nike. Aku memang suka iklannya. Karena sudah punya sepatunya, sekalian saja aku mengunduh aplikasi Nike Run Club dan pelan-pelan mulai terbiasa berlari. Begitulah aku menjadi pelari kubu Nike.

Meski begitu, untuk beberapa waktu tidak ada kejadian menarik.

Aku sesekali berlari, berhasil menyelesaikan setengah maraton, lalu satu maraton, kemudian maraton kedua. Tapi hasilku biasa-biasa saja.